Selamat Berpuasa

1 09 2008

Hari ini, umat muslim mulai menunaikan ibadah puasa.
Dengan berpuasa semoga kita menjadi manusia yang lebih berkualitas.
Dengan berpuasa semoga hidup kita lebih bermakna.
Dengan berpuasa serahkanlah hidup kepada Dia yang Maha Kuasa.

Selamat menunaikan ibadah puasa.
Semoga semua amal ibadah kita diterima Allah SWT.



Selamat Ulang Tahun Indonesia

18 08 2008

Salam 17an. Selamat ulang tahun Indonesiaku. Selamat ulang tahun untuk bangsa ini.

Maaf, kemarin tidak bisa langsung kasih selamat karena Mlandhing sibuk ikut Bazar di kompleks. Yah, meramaikan acara lah, sambil mendengarkan anak-anak dan remaja singing contest.

Peserta singing contest ini lucu-lucu juga. Ada yang sember, ada yang fals, tapi ada yang suaranya asik juga didengar. Apapun, bagaimana suara anak-anak itu dalam bernyanyi tidaklah penting-penting amat. Hati orangtua ini sudah bangga kok ketika mereka berani tampil, lepas dari kekurangan dan kelebihannya. Soal juara itu kan perkara kesekian.

Sebelum acara dimulai. ada yang membuat hati ini tersentuh. Saat lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dinyanyikan bersama. Bazar yang semula riuh bisa ‘terdiam’ tiba-tiba. Semua yang ada ikut menyanyikannya dengan lantang. Ada rasa khidmat. Betapa kita telah menghirup udara bebas selama 63 tahun. Memang negeri ini masih carut-marut, tapi ini lebih baik dibandingkan kondisi para pendahulu kita saat penjajahan. Mereka dulu harus kerja rodi. Mereka dulu harus kelaparan. Mereka dulu bahkan tidak bisa menentukan nasibnya sendiri.

Dan tanpa terasa, mata ini tiba-tiba berkabut. Bersyukur dan mensyukuri nikmat Tuhan YME. Betapa kita telah merdeka. Tinggal bagaimana kita mengisi kemerdekaan itu dengan sesuatu yang bermanfaat bagi semua orang.

Selamat Ulang Tahun Indonesiaku
Selamat Ulang Tahun Bangsaku
Merdeka..!



Sumiarsih

26 07 2008

Medio Juli 2008, mlandhing menghilang selama seminggu dari jagad maya. Bukan untuk suka-suka, tapi justru untuk menapaki situasi tintrim, masa-masa jelang eksekusi Sumiarsih dan Sugeng di LP Medaeng, Sidoarjo. Sengaja tulisan ini tidak diposting pada saat itu, karena mlandhing butuh waktu untuk mengambil jarak, menelaah, dan mengendapkan ‘drama kelam’ itu untuk kemudian menuliskannya di sini.

Hukuman mati, memang masih kontroversial di Indonesia. Mereka yang pro-life pasti merutuk habis hukuman ini, menganggapnya tidak manusiawi. Sementara ada juga kalangan yang setuju memberikan hukuman seberat-beratnya, berupa eksekusi mati agar jadi pembelajaran buat orang lain untuk tidak melakukan hal yang sama.

Pada kasus Sumiarsih dan Sugeng, keduanya adalah ibu dan anak yang pada tahun 1988 membunuh Letkol Mar Purwanto dan keluarganya secara brutal. Boleh dikata kejadian sadis yang memakan korban lima nyawa sekaligus itu adalah ‘Keluarga Sumiarsih’ membunuh ‘Keluarga Purwanto’. Dalam melakukan aksinya Sumiarsih memang tak hanya dibantu Sugeng - anak kandungnya, melainkan juga oleh Prajitno - suaminya, Adi Saputro - menantunya, dan dua orang keponakannya.

Dua orang keponakannya diganjar hukuman 12 dan 8 tahun karena meskipun tidak terlibat langsung membunuh, tapi keduanya dianggap membantu pembunuhan sadis tersebut. Adi Saputo, menantunya telah terlebih dulu menerima eksekusi mati tahun 1992 sesuai keputusan mahkamah militer. Asal tahu, Adi Saputro adalah polisi berpangkat serda. Prajitno, suaminya meninggal di penjara karena sakit pada tahun 2001. Dan tahun 2008 ini giliran Sumiarsih dan anak kandungnya, Sugeng yang harus menghadapi regu tembak dari Brimob Polda Jawa Timur.

Haru biru jelang eksekusi mati Sumiarsih dan Sugeng inilah yang menyedot perhatian semua pihak. Mungkin karena mereka telah menjalani 20 tahun masa tahanan. Seolah mereka mendapatkan dua kali vonis; dipenjara 20 tahun dan kemudian dieksekusi mati. Tidak sedikit yang mencela hal tersebut. Tapi, vonis tetaplah vonis. Dan eksekusi pun dilakukan Jum’at malam, 17 Juli 2008.

Sumiarsih. Perempuan ini memang pernah jadi pelacur kelas atas, juga mucikari salah satu wisma di gang dolly yang melegenda itu. Kekelaman masa lalunya tak menjadikannya lupa akan tanggungjawabnya berkeluarga. Sumiarsih di mata anak-anaknya, Sugeng dan Rose Mey Wati adalah ibu yang baik. Menurut mereka, pikiran pendek ibunya untuk membunuh keluarga Purwanto semata karena sakit hati dan terancam akibat belum bisa mengembalikan hutangnya pada Purwanto. Itu kenapa seluruh keluarga Sumiarsih ‘membelanya’ dan ikut melaksanakan pembunuhan sadis itu dengan rela.

Rasanya alasan dan motif pembunuhan itu sudah tidak relevan lagi kita bicarakan. Juga, kerelaan anggota keluarga yang lain untuk ikut serta dalam rencana pembunuhan itu tak lagi penting dibicarakan. Mlandhing justru ingin mencermati jeda waktu 20 tahun ini. Kurun waktu yang cukup lama untuk mengubah seseorang, dalam hal ini Sumiarsih.

Membunuh. Konon, sekali pernah membunuh orang, maka mencabut nyawa berikutnya adalah pekerjaan mudah. Bisa jadi itu berlaku bagi para psikopat. Tapi bagi manusia kebanyakan? Mencabut nyawa orang lain secara sengaja, apalagi dengan brutal dan sadis, tentu bukanlah pekerjaan mudah. Gelap mata karena emosi sesaat, biasanya paling sering jadi alasan. Tapi apakah hal itu relevan bagi sebuah pembunuhan yang direncanakan? Tidak. Butuh kebencian dan rasa sakit hati luarbiasa untuk melakukannya. Hati yang sudah terasuki kebencian menjadi kaku. Tidak ada lagi pikiran sehat. Masing-masing berpegang pada kebenarannya sendiri. Bahwa dia berhak melakukan itu karena alasan tertentu. Alasan yang mungkin bisa diterima oleh akal, tapi ketika ditarik dalam konteks menghilangkan nyawa orang lain, jadi tak bisa masuk dalam ranah kebenaran awam.

Sumiarsih. Otak pembunuhan sadis di kawasan Dukuh Kupang TimurĀ  juga memegang kebenarannya sendiri. Bisa jadi karena merasa terancam, tapi lebih mungkin karena sakit hati. Kebenaran pribadi yang kemudian diterima oleh keluarganya, dan saat rencana pembunuhan dan pembunuhan itu dilaksanakan menuai rutukan masyarakat. Tapi apa peduli Sumiarsih pada waktu itu, yang ada hanyalah ia harus melampiaskan amarah dan kebenciannya.

Hati yang dipenuhi benci akan menggumpal keras. Kebenaran subyektif menjadikannya lebih kaku. Hati Sumiarsih.

Mlandhing melihat, ada hikmah untuk jeda waktu 20 tahun masa tahanan sebelum Sumiarsih dieksekusi mati. Ia berhasil menemukan cara untuk mencairkan hatinya. Ia tobat. Tidak penting siapa atau agama apa yang menjadikannya luluh. Tapi Sumiarsih berhasil menjadikan dirinya sebagai manusia utuh dengan hati dan pikiran yang menyatu. Betapa dirinya menyesal telah melakukan tindakan biadab. Betapa dia menyesal telah memporakporandakan hidup keluarga, suami, anak-anak, dan menantunya. Di saat-saat terakhirnya Sumiarsih bahkan berucap maaf pada anak laki-lakinya Sugeng, karena telah melibatkannya dalam pembunuhan itu.

Jeda waktu 20 tahun sebelum eksekusi matinya memberikan kesempatan kepada Sumiarsih untuk menerima, betapa kebencian tidak menghasilkan apa-apa kecuali malapetaka, untuk dirinya, untuk keluarganya, dan untuk orang yang telah tercabut nyawanya akibat kekerasan hatinya.

Saat-saat terakhir Sumiarsih masih diwarnai kontroversi. Ia masih dirutuk dan dimaki akibat tindakan sadisnya dulu. Banyak pihak gembira akhirnya sebuah tindakan biadab mendapatkan hukuman yang setimpal. Tapi, tak kurang-kurang juga yang membesarkan semangatnya dalam menghadapi hukuman mati. Berdoa agar ia ikhlas dan siap menerima eksekusi.

Bagaimana sikap Sumiarsih sendiri?

Sumiarsih pasrah, siap menerima hukuman itu dengan ikhlas. Ia percaya bahwa Tuhan akan mengampunkan dosanya, menerima keterbatasannya sebagai manusia.

Sumiarsih bisa jadi memahami: dosa bisa diampuni, tapi buah dosa tetap harus ditanggungnya sendiri. Ia mati dalam eksekusi tembak pada perpindahan hari.



Seleksi Masuk SMP Negeri

6 07 2008

Bontot lulus SD. NEM-nya tidak tinggi tidak rendah, 22.25. Lumayan lah. Cuma, sejak tahu angkanya cuma segitu, mlandhing ini sudah deg-degan. Hati sudah bisa menduga kalau nanti bontot bakal kesulitan cari SMP Negeri di daerah sini, padahal dia sangat ingin masuk ke SMPN tertentu dekat rumah.

Sejak awal pendaftaran harus dilakukan secara kolektif. Mungkin karena penerimaan murid baru berdasarkan rayon, makanya sistem kolektif ini digunakan. Jadi deh tergantung pada guru di sekolah dalam mendaftarkan anak-anak.

Aku tidak mengerti, sistem masuk SMPN ini kok menurutku rada lucu. Mereka yang nilai NEM tinggi tersaring masuk ke SMPN tertentu. Nilai NEM di bawahnya, baru keterima di SMPN berikutnya. Semakin rendah NEM lengser ke SMPN berikutnya lagi. Jadi yang paling ‘pinter’ tersaring di SMP tertentu, sementara yang paling ‘bodoh’ di SMP yang lain.

Di satu sisi mungkin sistem ini memang memudahkan guru atau pendidik memberikan pengajaran sesuai tingkat kecerdasan anak - yang direpresentasi melalui NEM siswa. Tapi di sisi lain kok menurutku jadi wagu, memunculkan sebuah kasta tanpa sengaja: bahwa mereka yang masuk ke SMP tertentu adalah yang super cerdas, sedangkan yang bego-bego sana ngumpul di SMP yang lain.

Barangkali untuk orangtua dan mereka yang dewasa hal semacam itu tak terasa banget. Cuma, bisa tidak sih membayangkan apa yang dirasakan ANAK yang tergolong-golongkan itu? Pembagian kasta per kasta itu seolah memberikan STEMPEL, tepat di jidat mereka, bahwa mereka pintar atau tidak pintar. Aku melihat stempel maya tersebut di wajah anak-anak itu saat mereka tahu tidak ikut tersaring ke SMP tertentu.

Belum lagi sistem ini kemudian memunculkan keinginan irrasional orangtua agar anaknya masuk di SMP-SMP tertentu. Mereka bahkan sudah saling kasak-kusuk, mau lewat jalan belakang, bersedia bayar lebih agar si kepala sekolah meloloskan anaknya masuk ke SMP ybs meski nilai tidak memadai. Lantas?

Entah. Mlandhing ini cuma ibu rumah tangga yang bodoh dan lebih baik mengabaikan segala macam urutan kasta dan peringkat. Sejak awal juga mlandhing sudah memberikan pengertian kepada bontot bahwa NEM, pemeringkatan dan sistem masuk SMP hanyalah cara terbatas untuk menyaring siswa masuk sekolah. Yang penting adalah bagaimana dia bisa mengaktualisasikan dirinya dengan tepat. Abaikan saja peringkat-peringkat itu *menghibur diri*

Sabtu kemarin, benar saja, Bontot tak bisa masuk SMPN di rayon kami. Dia kecewa? Pasti. Untungnya aku tak melihat ’stempel’ bodoh itu di jidatnya. Ia hepi saja. Ia justru masygul melihat orangtua dari salah satu sohibnya kasak-kusuk, ajak-ajak orangtuanya ini untuk nyogok kepala sekolah SMPN agar anaknya bisa masuk SMPN itu.

Tahu apa yang dikatakannya?

“Dhuh, kalau lewat jalan yang salah jangan ajak-ajak orang lain dong!!!”

Dasar Bontot!



Kewajiban

20 06 2008

Aku mensyukuri ada yang namanya kewajiban. Suatu hal yang menuntut tanggungjawab kita, termasuk update blog ini.

Untukku ini sebuah kewajiban, atau setidaknya aku tempatkan ini sebagai sebuah kewajiban. Tidak ada yang memaksaku untuk itu. Aku hanya menjadikannya pegangan agar tetap bisa berpikir lurus dan berjalan tegak.