Seleksi Masuk SMP Negeri
6 07 2008Bontot lulus SD. NEM-nya tidak tinggi tidak rendah, 22.25. Lumayan lah. Cuma, sejak tahu angkanya cuma segitu, mlandhing ini sudah deg-degan. Hati sudah bisa menduga kalau nanti bontot bakal kesulitan cari SMP Negeri di daerah sini, padahal dia sangat ingin masuk ke SMPN tertentu dekat rumah.
Sejak awal pendaftaran harus dilakukan secara kolektif. Mungkin karena penerimaan murid baru berdasarkan rayon, makanya sistem kolektif ini digunakan. Jadi deh tergantung pada guru di sekolah dalam mendaftarkan anak-anak.
Aku tidak mengerti, sistem masuk SMPN ini kok menurutku rada lucu. Mereka yang nilai NEM tinggi tersaring masuk ke SMPN tertentu. Nilai NEM di bawahnya, baru keterima di SMPN berikutnya. Semakin rendah NEM lengser ke SMPN berikutnya lagi. Jadi yang paling ‘pinter’ tersaring di SMP tertentu, sementara yang paling ‘bodoh’ di SMP yang lain.
Di satu sisi mungkin sistem ini memang memudahkan guru atau pendidik memberikan pengajaran sesuai tingkat kecerdasan anak - yang direpresentasi melalui NEM siswa. Tapi di sisi lain kok menurutku jadi wagu, memunculkan sebuah kasta tanpa sengaja: bahwa mereka yang masuk ke SMP tertentu adalah yang super cerdas, sedangkan yang bego-bego sana ngumpul di SMP yang lain.
Barangkali untuk orangtua dan mereka yang dewasa hal semacam itu tak terasa banget. Cuma, bisa tidak sih membayangkan apa yang dirasakan ANAK yang tergolong-golongkan itu? Pembagian kasta per kasta itu seolah memberikan STEMPEL, tepat di jidat mereka, bahwa mereka pintar atau tidak pintar. Aku melihat stempel maya tersebut di wajah anak-anak itu saat mereka tahu tidak ikut tersaring ke SMP tertentu.
Belum lagi sistem ini kemudian memunculkan keinginan irrasional orangtua agar anaknya masuk di SMP-SMP tertentu. Mereka bahkan sudah saling kasak-kusuk, mau lewat jalan belakang, bersedia bayar lebih agar si kepala sekolah meloloskan anaknya masuk ke SMP ybs meski nilai tidak memadai. Lantas?
Entah. Mlandhing ini cuma ibu rumah tangga yang bodoh dan lebih baik mengabaikan segala macam urutan kasta dan peringkat. Sejak awal juga mlandhing sudah memberikan pengertian kepada bontot bahwa NEM, pemeringkatan dan sistem masuk SMP hanyalah cara terbatas untuk menyaring siswa masuk sekolah. Yang penting adalah bagaimana dia bisa mengaktualisasikan dirinya dengan tepat. Abaikan saja peringkat-peringkat itu *menghibur diri*
Sabtu kemarin, benar saja, Bontot tak bisa masuk SMPN di rayon kami. Dia kecewa? Pasti. Untungnya aku tak melihat ’stempel’ bodoh itu di jidatnya. Ia hepi saja. Ia justru masygul melihat orangtua dari salah satu sohibnya kasak-kusuk, ajak-ajak orangtuanya ini untuk nyogok kepala sekolah SMPN agar anaknya bisa masuk SMPN itu.
Tahu apa yang dikatakannya?
“Dhuh, kalau lewat jalan yang salah jangan ajak-ajak orang lain dong!!!”
Dasar Bontot!
Categories : Perenungan






Recent Comments