“Ngono yo ngono, ning ojo ngono”.
Wah, bener tidak ya ejaannya? Sudah lama tidak menggunakan idiom jawa ini. “Ojo” kadang ada yang menulisnya dengan “Aja”. Cuma, kok kayaknya lebih asik ditulis dengan huruf “o” daripada “a”.
Itu kan pepatah jawa untuk teguran supaya kita tidak terlalu berlebihan dalam segala hal. Ojo kebangeten. Sak madya, secukupnya saja. Yah, hal-hal yang seperti itulah. Dan aku melihat ‘terlalu berlebihan’ ini juga dilakukan Jupe.
Jupe yang aku maksud siapa lagi kalau bukan Julia Perezzzzzz, yang katanya seksi itu. Padahal menurutku tidak begitu juga. Body, ndak seksi banget, cuma karena memang sengaja diumbar, jadi keliatan seksi. Aku yakin kalau dia pakai pakaian yang rada tertutup begitu pasti cuma kayak aku yang sudah simbok-simbok ini.
Soal wajah? Sebenarnya Jupe cantik lho. Cuma karena sering banget ekspresinya terlalu mengundang, mupeng - muka pengen, aku kok jadi mau muntah ya? Tapi ini pendapatku sebagai perempuan lho ya. Kalau laki-laki gak tahu deh, kali ikut ‘kesetrum’ juga lihat muka dia nantang banget ngajak kelonan itu.
Beberapa hari ini kan aku mengikuti polemik peluncuran album nyanyi dia yang dikecam menteri pemberdayaan perempuan, potensial dicekal juga oleh BSF, dlsb. Jupe aku lihat mencoba berendah hati dengan tidak nantangin ibu menteri dan pihak-pihak yang berpolemik dengannya. Jawabannya masih lumayan oke, meski kelihatan dia tidak menguasai masalah. Kalau dia tahu persis alasannya menyisipkan kondom di album ndangndutnya itu, aku yakin dia justru akan tegas mempertahankan. Tapi sudah lah, tulisan ini tidak untuk memperkeruh polemik itu kok.
Si mlandhing ini cuma ingin mengatakan apa yang harus dikatakan.
Jupe, semua manusia, khususnya perempuan, sangat diberkahi oleh Tuhan YME
Kita punya segalanya, tubuh, wajah, dan lautan cinta untuk dibagikan.
Bukan berarti kita bebas mengumbarnya, ada pilihan-pilihan yang semestinya tepat, kepada siapa itu diberikan
Karena dalam ‘keterbatasan’ itulah justru kita ini indah.
Kau bisa saja mengatakan anti seks bebas, tapi ekspresimu jauh dari itu.
Bibirmu bisa saja mengatakan lirik lagumu secara harafiah tak bermakna beda,
tapi siapapun tahu arti dibaliknya, apalagi kau tumpangi dengan ekspresimu yang seolah kurang belaian.
Aku yakin, jauh di lubuk hatimu kau juga memahami lirik-lirik bersayapmu.
Ekspresimu, desahanmu, adalah milikmu.
Kau bebas memilih mengungkapkannya tanpa menghiraukan pendapat orang lain.
Tapi kalau itu pilihanmu, maka tak perlu kau berkilah apapun.
Jadilah dirimu.
Tapi boleh gak ya pepatah di atas tadi kau resapkan?
Berlatihkan menggunakan kecerdasan, jangan terlalu mengikutkan kata hati.
Dengan begitu, semoga kau bisa jadi wanita yang lebih bijak.
Sehingga tahu, kapan bicara, kapan diam.
salam,
mlandhing
Berbagi
Recent Comments