Misuh…!!

26 03 2008

Asem…!

Mau misuh rasanya. Tahu ‘misuh’ kan? Misuh itu mengumpat, merutuk, atau apapun lah. Sejak membuka blog ini dua hari yang lalu, aku jadi sadar kalau ternyata memiliki blog berarti siap menanggung beban tanggungjawab luarbiasa untuk terus menulis!

Seperti ada tuntutan untuk menyajikan pemikiran atau sekurangnya ‘kilasan’ pemikiran yang bisa membuat orang lain yang membacanya terinspirasi. Walah, terinspirasi……, kesannya kok jadi serius banget. Mungkin yang tepat adalah memunculkan insight bagi orang lain.

Paman Tyo yang banyak mengulas tentang nge-blog dan strategi blogging memang boleh saja bilang, “Pokoknya Nulis!”. Tapi, apa iya sesederhana itu tho? Aku kok tidak yakin, apalagi setelah ‘terperangkap’ di labirin blog ini.

Memang, menangkap spirit blog sebagai sebuah pengungkapan pribadi, rasanya sah saja mau menuliskan apapun. Baik tulisan yang bermutu maupun tidak. Baik goresan yang wagu atau layak baca. Semua sah…! Tapi, sekali lagi, ada saja remah kecil di otak ini yang tidak mau menerima begitu saja kesederhanaan blog: tulis dan publish!

Sepertinya, apa yang aku sampaikan ini masalah klasik bagi pemilik blog pemula. Entah. Bisa jadi orang lain malah tidak mikir begitu. Mungkin blogger pemula yang lain enjoy-enjoy saja dengan tulisan-tulisannya, dan abai pada apa yang ada di tataran pemikiran pembaca setelah membaca tulisannya. Tapi, sekali lagi, serius, aku, si mlandhing ini terbebani untuk menyajikan tulisan yang sedikitnya bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Apa aku salah???



Mlandhing-e Mledhing

24 03 2008

Nah lo.

Akhirnya nge-blog juga aku. Setengah dipaksa oleh Pakdhe Baratayudha yang duduk di pojok sana itu. Maklum, beliau tahu persis aku kadang menulis. Beliau juga tahu persis aku dekat dengan internet. Dan beliau mungkin super penasaran kenapa aku tidak nge-blog juga. Padahal jelas, blog sedang tren.

“Ayolah nduk, cepat nulis. Nulis apa saja boleh kok. Interesmu kan bermacam-macam. Mbok, pengetahuan kulinermu itu dituangkan dalam bentuk tulisan,” begitu ’sabda’nya.

Kuliner?

Mendengar kata yang satu itu rasanya pengetahuanku tidak banyak banget. Apa tidak malu sama Pak Bondan dan Mbak Odilia yang sudah malang melintang di dunia kuliner itu tho? Tapi sekali lagi Pakdhe Baratayudha memberikan semangat.

“Nulis Nduk, tidak harus kuliner, apa saja boleh, yang penting share pikiran kita. Blog itu kan seni ‘menjual diri’. Mosok kau tidak bisa tho jualan dirimu sendiri sementara kau sering memasarkan pikiran orang lain.”

Jadi, begitulah!

Aku kemudian tergerak membuka blog ini. Semata-mata bukan karena terpaksa, tapi lebih terpacu oleh teladan yang diberikan Pakdhe Baratayudha. Mau tahu teladan macam apa itu?

Begini. Sejak lama aku tahu persis, Pakdhe itu kepengen banget menuliskan apa yang ada dalam pikirannya. Cuma, nah ini, cuma tidak pernah pe-de! Selalu saja kami - aku dan beberapa teman yang sering menulis - ditanya: menulis itu gimana caranya ya?

Kira-kira kalau sampeyan yang ditanya begitu, bakal jawab apa dan bagaimana? Langsung menyampaikan teknik-teknik menulis, lengkap dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) itu? Atau menunjukkan plot-plot yang biasa berada pada sebuah tulisan?

Nah, kami-kami memang menjawab begitu, tapi itu jawaban berikutnya. Yang paling pertama kami kemukakan adalah: tulis saja apa yang ada di pikiran kita. Jangan pedulikan EYD atau apapun yang kira-kira membebani proses menulis. Toh kita hidup di jaman komputer, dimana copy - paste - insert - dan delete memberikan kemudahan luarbiasa dalam mengatur sebuah tulisan secara utuh.

Dalam kesempatan berbeda, Pakdhe Yayan Sopyan pernah berkata: Bahkan penulis yang mumpunipun, tidak pernah menulis sekali langsung jadi!

Jadi, begitulah!

Bulan-bulan ini Pakdhe Baratayudha sudah menulis, dan publish di blog dagdigdug ini. Judul-judul yang dia pilih catchy banget. Seru. Kalau Pakdhe saja sudah berani, mosok aku, yang lebih terbiasa menulis, masih malu-malu tho? Ketemu berapa perkara?

Hari ini, menulislah aku. Tulisan ini. Bukan tulisan apa-apa, sekedar menyampaikan saja sebuah proses. Termasuk pemilihan nickname, yang konon kalau pilihannya tepat, bakal memberikan hoki! (Opo maneh iki, kok pakai hoki-hokian segala?) Tapi, itulah yang terjadi.

“Pilihlah yang gampang diingat. Coba, kau mau pakai nickname apa?” tanya Pakdhe.
“Anu, apa ya….bagaimana kalau MLANDHING?”
“Kenapa kau pilih nama itu?”
“Mlandhing itu kan sebutan singkat dari Kamlandhingan. Itu lho, petai cina, yang sedap kalau dipakai masak bothok. Orang jawa kan menyebutnya mlandhing. Tanamannya tidak banyak diperhatikan orang. Padahal manfaatnya banyak tuh.”

Diam. Sepi. Tidak ada komentar. Pakdhe tidak mendengar atau nunggu tambahan penjelasan dariku? Sesaat, kusimpulkan beliau perlu penjelasan lebih lanjut.

“Begini, kesannya, kalaupun orang tidak tahu artinya, tapi kalau mendengar kata mlandhing, kok bakalan punya persepsi, kalau si mlandhing ini pasti perempuan, jelas orang jawa, rada kemayu, tapi sadar unggah-ungguh (tata krama)….” terangku lagi

“Stop, wis, cukup, aku tahu maksudmu….berarti, nek mlandhing sadar tata krama yo….nah, sing ora sadar tata krama, jenenge MLEDHING!” Seru Pakdhe Baratayudha, aku yakin beliau sambil ngampet tawa.

Nah lo, siapa yang tidak tahu apa itu Mledhing?

Hhm, gimana ya, susah mau neranginnya. Begini, kalau duluuu sekali, waktu kita kecil, kalau mau ngejek teman itu gampang banget. Cukup belakangi dia, pelorotkan celana kolor yang kita pakai, trus nungging, pamerkan saja bokong kita yang putih itu (kalau putih lho ya…:P). Itulah mledhing!

Hayooo, sekarang siapa yang berani mledhing? Ketika kita-kita sudah dewasa, kok rasanya tidak pada tempatnya lagi mledhing…hehehe

Wis, mulai saat ini, aku, si mlandhing akan mencoba nge-blog. Tenang, bukan dalam rangka mledhing-i siapapun, tapi sekedar menuliskan apa yang bisa ditulis. Dibaca, syukur. Tidak dibaca kok kebangeten. Bagaimana?